Senin, 28 November 2011

Tafsir Surat Al-Falaq


Oleh  : Fajri NS .

Allah berfirman,
(( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ - مِن شَرِّ مَاخَلَقَ - وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ - وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فيِ الْعُقَدِ - وَمِن شَرِّحاَسِدٍ إِذَا حَسَدَ ))

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Shubuh. Dari keburukan makhluk-Nya. Dan dari keburukan malam, apabila telah gelap gulita. Dan dari keburukan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari keburukan orang yang dengki, apabila ia dengki.” 
 [QS. Al Falaq, 1-5]

Kandungan Pokok Surat Al Falaq
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah mengatakan, bahwa Surat Al Falaq dan juga An Naas mengandung tiga perkara pokok dalam Pembahasan ‘Al Isti’adzah’, yaitu meminta perlindungan. Tiga pokok itu adalah : 1) Permintaan perlindungan itu sendiri; 2) Yang dimintai perlindungan (Allah); 3) Perkara-perkara yang kita berlindung darinya.

Keistimewaan dan Kegunaan Surat Al Falaq
1.         Sesuatu yang paling utama yang bisa dipakai untuk mendapatkan perlindungan dari Allah;
2.         Bisa dipakai untuk sarana penyembuhan terhadap penyakit.
Yaitu, dengan membaca Surat Al Falaq, Al Ikhlas dan juga An Naas. Kemudian, kita meniupkan kepada kedua telapak tangan kita disertai sedikit air ludah, akan tetapi tidak sampai meludah. Lalu, kita usap tubuh kita yang terasa sakit dengan tangan tersebut. Sebagaimana hal ini pernah dilakukan Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam. [HR. Al Bukhari, Imam Malik]
Meskipun demikian, kita juga boleh menggunakan obat-obat lain yang telah ditemukan oleh ahlinya, asalkan obat tersebut bukan dari bahan-bahan yang haram.
3.         Merupakan dzikir atau wirid yang dibaca setelah shalat 5 waktu bersama dengan Surat An-Naas. [HR. At Tirmidzi, dishahihkan Imam Al Albani]
4.         Merupakan wirid yang dibaca di waktu pagi (dimulai setelah Shubuh), maupun petang hari (dimulai setelah Shalat Ashar). [HR. At Tirmidzi]
5.         Merupakan wirid yang dibaca sebelum tidur bersama dengan Surat An Naas dan Al Ikhlash. [HR. Al Bukhari dan Muslim]

Tafsir Ayat Pertama : :
Penjelasan Tentang Keagungan Allah dan Manfaat dari Cahaya Pagi
Pada ayat pertama dari Surat Al Falaq ada dua hal yang penting untuk diperhatikan, yaitu:
1.      Kita diperintah agar berlindung hanya kepada Allah;
2.      Kenapa yang disebutkan dalam ayat ini hanya waktu Shubuh yang dikuasai Allah?

Dalam banyak ayat dijelaskan, bahwa Allah adalah Penguasa Alam Semesta, bahkan Allah-lah yang menciptakan alam semesta. Sedangkan dalam ayat yang pertama dari Surat Al-Falaq disebutkan, bahwa Allah adalah Penguasa Waktu Shubuh. Maka hal ini tidak menunjukkan, bahwa kekuasaan Allah hanya terbatas pada Waktu Shubuh, akan tetapi disebutkannya Waktu Shubuh di sini adalah, karena ada kaitan erat dengan ayat setelahnya, tepatnya ayat ke-tiga. Pada ayat ke-tiga disebutkan, bahwa kita berlindung kepada Allah dari keburukan yang ada di dalam gelapnya malam. Maka subuh adalah permulaan pagi hari yang mana cahaya terang ketika itu datang. Sehingga dengan datangnya Waktu Shubuh, hilanglah keburukan yang ada di malam hari. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab tafsir beliau yang sangat panjang terhadap Surat Al Falaq.

Tafsir Ayat Ke-Dua  sampai Ke-Lima : :
Penjelasan Tentang Keburukan-keburukan yang Kita Berlindung Kepada Allah Darinya
Dalam ayat ke-dua sampai ke-lima, Allah menyebutkan keburukan apa saja yang kita berlindung kepada Allah dari itu semua agar tidak menimpa kita. Keburukan tersebut antara lain:
1.      Makhluk Allah yang Pada Makhluk Tersebut Terdapat Keburukan
Allah berfirman,
(( . . . مِن شَرِّ مَاخَلَقَ . . . ))
“… dari keburukan makhluk-Nya …”
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menjelaskan, bahwa makna dari ayat ini adalah makhluk Allah yang pada makhluk tersebut ada keburukannya. Karena, ada makhluk Allah yang tidak ada keburukannya sama sekali, seperti makhluk Allah yang bernama Surga.
Maka dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita agar berlindung dari makhluk Allah yang di dalamnya ada keburukan, baik dari golongan manusia, jin, maupun binatang. Begitu juga makhluk-makhluk yang lain, seperti angin dan hujan, yang bersifat merusak dan lain sebagainya. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, bahwa semua bentuk bencana termasuk ke dalam ayat ini.
Oleh karena itu, Syaikh As Sa’die rahimahullah berkata, “Ini mencakup semua makhluk yang Allah ciptakan, baik dari jenis manusia, jin, maupun  binatang-binatang. Maka, dimintakan perlindungan kepada Penciptanya dari keburukan yang ada pada (beberapa) makhluk (ciptaan)-Nya.”

Peringatan Penting!
Meskipun kita meyakini ada diantara makhluk ciptaan Allah yang mengandung keburukan, kita tidak boleh menyandarkan keburukan kepada Allah. Tidak boleh kita meyakini, bahwa perbuatan Allah dalam menciptakan makhluk tersebut adalah buruk. Karena, Allah adalah Sesembahan Yang Maha Sempurna di dalam, Nama-nama-Nya, Shifat-shifat-Nya dan Perbuatan-perbuatan-Nya.

2.      Keburukan Malam Hari
Setelah memerintah agar berlindung dari keburukan seluruh makhluk secara umum, pada ayat ke-tiga secara khusus, Allah memerintah agar berlindung dari keburukan yang ada dalam gelapnya malam. Karena, pada malam hari, syaithan-syaithan tersebar di muka bumi. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam, “Sesungguhnya ketika matahari tenggelam, maka syaithan-syaithan tersebar.” [HR. Al Bukhari, Kitab Bad-il Khalqi, Bab Shifati Iblis wa Junudihi dan Muslim, Kitabul Asyribah, Bab Istihbabi Taghthiyatil Inaa’]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Malam hari adalah tempatnya kegelapan. Dan di dalamnya syaithan-syaithan dari jenis manusia, maupun jin lebih leluasa tidak sebagaimana leluasanya mereka ketika di siang hari, karena siang hari (identik dengan) cahaya, sedangkan syaithan itu leluasa dalam kegelapan dan tempat-tempat yang gelap, serta pada orang-orang yang dikuasai kegelapan (orang yang jahat dan sesat).” [Badaa-i’u At Tafsir, hal: 401]

3.      Keburukan Tukang – tukang Sihir yang Menyihir Manusia
Dalam ayat yang ke-empat, Allah memerintahkan agar berlindung dari ‘An Naffaatsaat’. Menurut para ahli tafsir murid-murid para shahabat Radhiyallohu ‘Anhum, seperti Mujahid, Qatadah, ‘Ikrimah, Al Hasan dan Adh Dhahhak, makna ‘An Naffaatsaat’ adalah ‘As Sawaahir’, yaitu ‘para tukang sihir wanita’.
Ayat ini tidak menunjukkan, bahwa yang melakukan sihir hanya para wanita, akan tetapi penyihir dari kalangan laki-laki pun ada. Sebagaimana dalam Kitab Shahih Al Bukhari dijelaskan, bahwa yang menyihir Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam adalah seorang laki-laki. Oleh karena itu, ayat ini menjadi dalil yang kuat tentang adanya sihir. Bahkan, Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alahi Wasallam pernah terkena sihir dan disembuhkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril. Sedang, yang menyihir beliau bernama Labid bin Al A’sham.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang menyihir Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alahi Wasallam adalah Labid bin Al A’sham, bukan anak-anak perempuannya, sebagaimana hal ini ada di dalam Ash Shahih (yaitu, Kitab Shahih Bukhari).” [Badaa-i’u At Tafsir, hal. 404]

Suatu ketika, Jibril ‘Alaihissallam datang kepada Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam, ketika Beliau Sholallohu ‘Alahi Wasallam terkena sihir. Jibril ‘Alaihissallam bertanya kepada Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam, “Engkau kesakitan, wahai Muhammad?” Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam menjawab, “Ya.” Jibril ‘Alaihissallam berkata, “Bismillah (dengan menyebut nama Allah) aku me-ruqyah-mu (mengobatimu dengan bacaan-bacaan) dari semua penyakit yang menyakitimu dan dari keburukan semua orang yang hasad dan ‘ain (pengaruh mata jahat), (semoga) Allah menyembuhkanmu.” [HR. At Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Dishahihkan oleh Imam Al Albani. Tafsirul Qur’anil ‘Adhim (4/723) cet. Daar Al ‘Aqidah]

Dengan ini, kita semakin mengetahui kesalahan orang-orang yang mengingkari adanya sihir dan pengaruhnya. Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’die rahimahullah dalam kitab tafsir beliau, “… maka Surat (Al Falaq) ini mengandung (perintah untuk) berlindung dari semua bentuk keburukan secara umum, maupun khusus. Dan menunjukkan, bahwa sihir itu benar-benar ada yang dikhawatirkan keburukannya. Keburukan sihir, maupun tukang sihir ditangani dengan berlindung kepada Allah.” [Halaman 1323]

Dan keberadaan Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam terkena sihir bukanlah sesuatu yang mengurangi kemuliaan Beliau sebagai nabi, karena beberapa hal berikut:
a.  Ini semua masuk ke dalam takdir Allah yang bersifat kauny. Yaitu, takdir yang pasti terjadi, akan tetapi Allah tidak menyukainya.
b.  Keberadaan Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam terkena sihir pada hakekatnya adalah seperti ketika seseorang terkena penyakit-penyakit yang ada di dunia ini, misalnya demam, atau penyakit yang lainnya. Karena sihir sama seperti penyakit yang lain dari beberapa sisi.
c.  Dengan Allah takdirkan Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam terkena sihir menunjukkan, bahwa Nabi Sholallohu ‘Alahi Wasallam tetaplah nabi, tidak sama dengan Allah, karena kita jumpai sebagian dari kaum muslimin yang mengangkat Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alahi Wasallam sampai kepada derajat Tuhan. Maka dengan ini semua, semakin jelas keagungan Allah sebagai sesembahan dan kemuliaan Nabi Muhammad Sholallohu ‘Alahi Wasallam sebagai utusan Allah yang senantiasa ditolong oleh Allah Azza Wa Jalla.

Hukum Sihir
Dari Surat Al Falaq dan juga Surat Al Baqarah ayat 102 kita mengetahui, bahwa sihir hukumnya haram, apapun namanya. Karena, pada kenyataannya, sihir ini dikemas dengan nama-nama lain yang mengesankan, bahwa hal itu bukan sihir. Seperti nama ‘ilmu tenaga dalam’. Maka ilmu tenaga dalam, baik yang ‘hitam’, maupun ‘putih’ yang telah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin pada hakekatnya adalah sihir. Kenyataan membuktikan, bahwa yang mempelajari ‘ilmu-ilmu’ seperti ini tidak bisa lepas dari bantuan jin. Sebagaimana pengakuan orang yang telah sadar dari ilmu yang semacam ini.

4.      Keburukan Orang Yang Hasad Kepada Kita
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’die rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan, bahwa orang yang hasad (dengki) adalah orang yang sangat menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang dia hasad (dengki) kepadanya dan melakukan segala cara agar nikmat tersebut hilang darinya.
Jika seseorang pada hatinya ada rasa hasad (dengki) kepada orang lain dan berusaha menghilangkannya dari hatinya, maka rasa hasadnya itu tidak membahayakan orang yang dia hasad kepadanya. Yang menjadi masalah adalah, jika orang yang hasad ini semakin kuat dan dia menindaklanjuti rasa hasadnya dengan niatan buruk, maupun ucapan atau perbuatan. Jika demikian keadaannya, maka rasa hasadnya itu bisa membahayakan orang lain yang dia hasad kepadanya.

Maka dari bahaya yang seperti inilah kita berlindung kepada Allah dan inilah makna ayat ke-lima dari Surat Al Falaq. Oleh karena itu, Allah tidak hanya berfirman, ‘… dari orang yang dengki …’, akan tetapi melanjutkan dengan firman Nya, ‘… apabila (ketika) ia dengki.” Hal ini, karena terkadang seseorang dengki kepada orang lain, lalu dia berusaha menghilangkan rasa dengkinya, maka yang seperti ini tidak membahayakan, sebagaimana penjelasan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.



BULETIN AL-MINHAJ
Edisi 21

29 Dzulhijjah 1432

25 Nopember 2011

0 komentar:

Poskan Komentar

Cinema 4d

Loading...
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Eagle Belt Buckles