Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Oktober 2014

Doa Pakai Lilin dan Minum Alkohol: Revolusi Mental?



Doa pakai Lilin. Setelah itu minum Alkohol.
Alhamdulillah. Revolusi Mental sudah berjalan... :)

Jabatan itu amanah. Beban yang harus dijalankan dengan baik. Aneh juga jika dirayakan dengan pesta pora begitu meski namanya pesta rakyat. Semoga bisa memenuhi janji-janji yang diucapkan saat kampanye. Minimal separuhnya saja.

Astaghfirullah, Usai Konser Syukuran Jokowi, Banyak Remaja Beli Minuman Alkohol
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/politik/14/10/21/ndrc18-astaghfirullah-usai-konser-syukuran-jokowi-banyak-remaja-beli-minuman-alkohol


Aksi 1000 Lilin untuk Jokowi: Mirip Ajaran Kristen?
Aksi 1000 Lilin, Jokowi Bagaikan Pelita
Sekitar 1000 lilin dinyalakan oleh ratusan relawan pendukung Jokowi-JK sebagai simbol aksi simpati mendoakan Presiden dan Wapres Terpilih Jokowi-JK menjalani pemerintahan lima tahun ke depan.

Menurut Koordinator Gerakan 20 Oktober (Geruduk) Panel Barus, pemaknaan lilin tersebut dianggap sebagai Jokowi. "Lilin itu sebagai simbol. Jokowi itu seperti lilin, pelita, secercah cahaya," ujarnya di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (18/10/2014).
http://news.metrotvnews.com/read/2014/10/18/306882/aksi-1000-lilin-jokowi-bagaikan-pelita
Bagi orang2 Islam yang ikut2an menyalakan lilin sekedar tahu:
Cahaya yang dihasilkan lilin mempunyai makna teologis yang sangat penting bagi gereja Katolik kita, antara lain :
• Cahaya Lilin melambangkan Kristus sebagai Cahaya dan Terang Dunia

http://kabarislamia.blogspot.com/2014/10/aksi-1000-lilin-untuk-jokowi-mirip.html

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa-idah 90]
http://kabarislamia.blogspot.com/2012/04/proses-pengharaman-khamarminuman-keras.html

Senin, 15 September 2014

Cium Tangan Ulama/Orang Tua itu Bukan Syirik

Mencium tangan orang2 Saleh seperti Nabi, Ulama, atau pun orang tua kita itu bukanlah Syirik. Begitu pula dengan mencium anak kita. Syirik itu artinya menyembah Tuhan selain Allah:

Dari Shafwan bin 'Assal r.a., katanya: "Ada seorang Yahudi berkata kepada sahabatnya: "Marilah bersama kami pergi ketempat Nabi Muhammad." . Keduanya mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu menanyakan perihal sembilan ayat-ayat yang terang." Shafwan seterusnya menguraikan hadits ini sampai ucapannya: "Lalu orang-orang -yakni dua orang Yahudi serta para hadirin yang ada di situ- sama mencium tangan dan kaki beliau s.a.w. dan keduanya berkata: "Kita semua menyaksikan bahwa Anda adalah seorang Nabi." Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lain-lainnya dengan isnad-isnad shahih.

Dari Ibnu Umar ra, ia menyebutkan sesuatu cerita yang di dalamnya ia mengatakan: "Lalu kita semua mendekat kepada Nabi s.a.w. kemudian kita mencium tangan beliau itu." (Riwayat Abu Dawud)


Dari Ibnu Jad’an ia berkata kepada Anas bin Malik, apakah engkau pernah memegang Nabi dengan tanganmu ini ?. Sahabat Anas berkata : ya, lalu Ibnu Jad’an mencium tangan Anas tersebut. (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Dari Shuhaib ia berkata : saya melihat sahabat Ali mencium tangan sahabat Abbas dan kakinya. (H.R. Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Nabi s.a.w. mencium al-Hasan bin Ali ra dan di dekat beliau s.a.w. itu ada seorang bernama al-Aqra' bin Habis, lalu al-Aqra' berkata: "Saya ini mempunyai sepuluh orang anak, belum pernah saya mencium seorangpun dari mereka itu." Rasulullah s.a.w. lalu memperhatikan orang itu, kemudian bersabda: "Barangsiapa yang tidak menaruh belas kasihan -kepada sesamanya, maka tidak dibelas kasihani -oleh Allah." (Muttafaq 'alaih)

Meski kita harus mencintai Allah dan RasulNya di atas yang lain, bukan berarti kita tidak boleh mencintai yang lain seperti mencintai orang tua, istri, anak-anak kita, dsb. Justru kita juga harus mencintai yang lainnya namun mencintai mereka sebagai sesama makhluk hidup. Bukan sebagai Tuhan.

http://kabarislamia.com/2014/09/16/cium-tangan-ulamaorang-tua-itu-bukan-syirik/