Senin, 15 Desember 2014

Doa Minta Rezeki dan Perlindungan Allah

Malam Sabtu kemarin (12 Desember 2014), Habib Hud bin Bagir Alatas mengajarkan beberapa doa dan zikir dari Kitab Al Azkar Imam Nawawi.

Di antaranya doa untuk memperbanyak rezeki seperti:

“Allahumakfini bi halalika ‘an haramika wa aghnini bi fadlika ‘aman siwak, “Ya Allah! Cukupkanlah bagiku rizki yg halal dariMu, jauhkanlah aku dari rizki yg Engkau haramkan. Dan berikanlah aku kekayaan dengan anugerahMu bukan selainMu“ (HR. Tirmidzi)
Baca itu 3x setelah sholat. 

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ  
 الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

ALLAHUMMA INNI A'UDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZANI WA A'UDZUBIKA MINAL AJZI WAL KASALI WA A'UDZUBIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI WA A'UDZUBIKA MIN GHOLABATIDDAINI WA QOHRIRIJALI.

ARTINYA: ya Alllah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih,aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas,aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir,dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.

kata Abu umamah ra. setelah membaca doa tersebut Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas semua hutang-hutangku. (HR.Abu Dawud 4/353)

Sayyidinia Ali ra berkata, biarpun hutangnya sebesar gunung, insya Allah akan lunas. Yang penting niat untuk membayar. Bukan niat untuk memakan. Insya Allah, Allah yang "bayarin" (lewat rezeki yg diberikan pada kita).

Ada lagi doa perlindungan yang jika dibaca Subuh sebanyak 3x, insya Allah aman dari segala bahaya hingga sore hari. Jika dibaca Ashar, aman hingga Subuh:

A'udzu bi kalimatillahi taammah min syarri ma kholaq. Aku berlindung dgn kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhlukNya.

Ada 1 doa lagi yang saya tak hafal meski dibaca 3 soalnya kepanjangan.

Kemudian saat mendusin (bangun tengah malam) atau melihat sesuatu yang menakjubkan seperti pelangi, baca Subhanal Malikul Qudduus...

Kamis, 11 Desember 2014

Video Pengakuan dan Kesaksian dr Joserizal Jurnalis Bukan Syi'ah

Ini adalah Video Pengakuan dan Kesaksian dr Joserizal Jurnalis Bukan Syi'ah. Jika memang bukan Syi'ah, untuk apa mengaku-ngaku Syi'ah?
Apa para pemfitnah tsb pernah melihat dr Joserizal Jurnalis sholat ala Syi'ah seperti tuduhan mereka? Misalnya bertepuk2 dada atau sholat di atas batu karbala?
Apa para pemfitnah tsb pernah melihat dr Joserizal menghina2 istri dan sahabat Nabi?
Saat dr Joserizal membantah, mereka paling2 cuma bilang Joserizal Syi'ah yang taqiyyah. Tanpa ada bukti, dan tanpa ada tabayyun.
Jelas kaum pemfitnah ini tak lebih dari boneka zionis Yahudi yang dipakai Yahudi untuk memecah-belah ummat Islam.
Cuma karena menolak mengatakan semua Syi'ah itu sesat dan menentang Perang Suriah, dr Joserizal difitnah sbg Syi'ah oleh sebagian kaum Salafi Wahabi. Cuma berdasarkan su'u zhon belaka. Tanpa tabayyun.
Ini penjelasan dr Joserizal yg merupakan dokter pribadi Ustad Abu Bakar Ba;asyir.
Watch "SATU JAM LEBIH DEKAT DR Joserizal Jurnalis Pendir…" on YouTube - SATU JAM LEBIH DEKAT DR Joserizal Jurnalis Pendir…: 

Semua Syi'ah Kafir dan Syi'ah Bukan Islam?

Ada sebagian Salafi Wahabi yang rajin menyebar kesesatan Syi'ah. Semua Syi'ah sesat. Syi'ah bukan Islam kata mereka. Alasannya: "Demi Menjaga Aqidah".

Itu keliru. Jika menjaga aqidah, ajarkan saja aqidah dan fiqih yang benar menurut mazhab Syafi'ie. Jika anak2 kita selalu diajari tentang kesesatan Syi'ah, aqidah Syi'ah, dsb apalagi tiap hari, maka akan ada 3 kemungkinan. Pertama netral: anak tsb tetap menganut paham Sunni. Kedua: amat benci Syi'ah dan mengkafirkannya serta berusaha membunuh Syi'ah. Ketiga: dia tabayyun ke Syi'ah dan bukan tidak mungkin jika yg diajarkan tidak sesuai dgn keterangan kaum Syi'ah tsb, anaknya jadi Syi'ah. Ini persis kasus 9/11 di mana Islam dijelek2an di Barat, tapi justru karena dijelek2an, banyak orang2 Barat jadi ingin tahu Islam tsb sebenarnya dan masuk Islam.

Dan mengkafirkan Syi'ah, jika ternyata mereka tidak kafir, justru merusak aqidah kita. Justru kitalah yg jadi kafir jika tuduhan kita tidak benar.


“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu (atau mengucapkan Tahlil): “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu [dulu juga kafir], lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” [An Nisaa’ 94]
“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.” [HR Bukhari]

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2011/10/26/jangan-mudah-mengkafirkan-sesama-muslim/

Saat pemberontakan Mu'awiyah thd Khalifah Ali, Islam terbagi jadi 3: Sunni, Syi'ah, dan Khawarij. Aqidah dan amalan Ibadah mereka masih sama. Jadi Sunni dan Syi'ah saat itu boleh dikata serupa. Tidak ada yang sesat. Sama2 bagian dari Islam. Hanya karena perpecahan politiklah mereka terbagi 2: Kubu Mu'awiyah dan yg netral disebut Sunni, Kubu Ali disebut Syi'ah.

Nanti kubu Ali ini terpecah lagi. Ada Khawarij yang memisahkan diri dari Khalifah Ali dan menganggap semua Muslim itu kafir dan membunuhnya. Nah Khawarij ini meski aqidah dan amal ibadahnya sama, tapi karena mengkafirkan dan membunuh sesama Muslim, mereka disebut Khawarij. Orang2 yang keluar dari Islam.


Jadi kalau ada Muslim yang mengkafirkan sesama Muslim, mereka ini pada dasarnya Khawarij. Meski mereka taqiyyah sebagai Ahlus Sunnah / Sunni.

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:Nabi saw. bersabda: Barang siapa menghunus pedang kepada kami, maka ia bukanlah dari golongan kami. (Shahih Muslim No.143)

Terhadap orang yang jelas-jelas munafik seperti Abdullah bin Ubay pun Nabi tidak mau membunuhnya. Apa kata orang jika aku membunuh sesama Muslim? Begitu sabda Nabi.

Jadi jika Muslim saling bunuh, jelas dia tidak mengikuti sunnah Nabi.

Hadis riwayat Jarir ra., ia berkata:Ketika haji wada, Nabi saw. bersabda kepadaku: Suruhlah orang-orang diam. Setelah orang-orang diam, beliau bersabda: Janganlah sesudah kutinggalkan, kalian kembali menjadi orang-orang kafir, di mana sebagian membunuh sebagian yang lain. (Shahih Muslim No.98)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/02/07/larangan-mencaci-dan-membunuh-sesama-muslim/

Mengenai Syi'ah, Dr Habib Rizieq Shihab membagi Syi'ah ke dalam 3 golongan: Syi'ah Ghulat yang menTuhankan Ali (Kafir), Syi'ah Rafidhoh yang menghina istri dan sahabat Nabi (Sesat), dan Syi'ah Mu'tadil yang tidak menTuhankan Ali dan tidak menghina istri dan sahabat Nabi (Lurus).

Pandangan FPI terhadap SYI’AH sebagai berikut : FPI membagi Syi’ah dengan semua sektenya menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, SYI’AH GHULAT yaitu Syi’ah yang menuhankan/menabikan Ali ibn Abi Thalib RA atau meyakini Al-Qur’an sudah di-TAHRIF (dirubah/ditambah/dikurangi), dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari USHULUDDIN yang disepakati semua MADZHAB ISLAM. Syi’ah golongan ini adalah KAFIR dan wajib diperangi.
Kedua, SYI’AH RAFIDHOH yaitu Syi’ah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti ‘Aisyah RA dan Hafshah RA. Syi’ah golongan ini SESAT, wajib dilawan dan diluruskan.
Ketiga, SYI’AH MU’TADILAH yaitu Syi’ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap Rafidhah, mereka hanya mengutamakan Ali RA di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat Ahlul Bait daripada riwayat yang lain, secara ZHOHIR mereka tetap menghormati para sahabat Nabi SAW, sedang BATHIN nya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan. Syi’ah golongan inilah yang disebut oleh Prof. DR. Muhammad Sa’id Al-Buthi, Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syeikh Ali Jum’ah dan lainnya, sebagai salah satu Madzhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syi’ah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan DA’WAH dan DIALOG bukan dimusuhi.

Berikut Rekomendasi MUI (bukan Fatwa) tentang Syi’ah. Ini adalah Rekomendasi. Bukan Fatwa. Meski MUI minta Aswaja waspada terhadap menyebarnya Syi'ah, namun tidak menulisnya sebagai "Sesat dan Menyesatkan" sebagaimana Fatwa Sesat MUI thd Ahmadiyyah dan Sepilis. Apalagi sampai mengkafirkan:
Faham Syiah
بسم اللّه الرحمن الرحيم
Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut:
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.
Perbedaan itu di antaranya :
1. Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
5. Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah
Ditetapkan : Jakarta, 7 Maret 1984 M
4 Jumadil Akhir 1404 H
KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua
ttd
Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Sekretaris
ttd
H. Musytari Yusuf, LA
Sumber: http://mui.or.id/index.php?option=com_docman&task=search_result&Itemid=73
Fatwa MUI/Bidang Aqidah dan Aliran Keagamaan
http://faisalchoir.blogspot.com/2011/12/fatwa-mui-tentang-syiah.htm

Meski masyarakat banyak yang mengira tulisan di atas Fatwa, namun bukan. Itu rekomendasi.

Pada Risalah Amman di www.ammanmessage.com, lebih dari 500 ulama dari 84 negara menyatakan Sunni dan Syi'ah adalah bagian dari Islam yang lurus dan dilarang mengkafirkan. Di antara yang tanda tangan adalah Raja Abdullah dari Saudi Arabia dan beberapa Ulama Saudi, Syeikh Al Azhar seperti Syeikh Tantawi, Ali Jum'ah, dan Ahmad Thayyib, Syeikh Al Buthi, Yusuf Qaradhawi, KH Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, Tutty Alawiyah, PM Malaysia Abdullah Badawi, dsb.

Umar Syihab (Ketua MUI)

Menurut Umar Syihab, ia tak sependapat dengan MUI Jawa Timur yang menyebut aliran Syiah sesat. Umar menegaskan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Syiah sebagai aliran sesat.

Mengenai insiden pembakaran pesantren Syiah di Sampang, Madura beberapa waktu lalu, Umar berpendapat insiden hanyalah ditumpangi pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam dengan kedok ajaran Syiah yang dituding sesat.
Kata Umar, MUI tidak pernah menyatakan, bahwa Syiah itu sesat. Syiah dianggap salah satu mazhab yang benar, sama halnya dengan ahli sunnah wal jama’ah. Kendati pun ada perbedaan pandangan, kata dia, Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan, apalagi perusakan tempat ibadah dan majelis taklim seperti terjadi di Sampang.

Ajaran Syiah, kata Umar, sudah diakui di dunia islam sebagai mazhab yang benar sampai saat ini. “Karena itu jangan kita membuat peryataan yang bisa mengeluapkan gejolak di tengah-tengah masyarakat kita dan bisa menyebabkan korban.”

Said Aqil Siraj (Ketua NU)

Menurut Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, ada desain besar di balik aksi pembakaran pesantren penganut Syiah di Sampang, Madura. Tak mungkin peristiwa tersebut terjadi tanpa ada yang membuatnya. Padahal kerukunan hidup beragama di sana sebelumnya baik-baik saja.

Said meminta pemerintah dan aparat keamanan bekerja lebih keras, mencegah aksi serupa terulang di kemudian hari. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” kata Said.

Menurut Said Aqil, Sunni dan Syiah hanya dijadikan alat seolah-olah memang ada permusuhan. Padahal tidak, mereka dari dulu sampai sekarang hidup damai berdampingan. Ketua Umum PBNU itu meminta semua pihak bisa menahan diri dengan tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis. “Pihak ketiga itu selalu melancarkan provokasi supaya konflik terus terjadi. Dan bukan tidak mungkin kasus serupa akan terjadi di kemudian hari,” katanya.

Prof Dr Said Agil Siraj mengungkapkan, di sejumlah negara Islam maupun Timur Tengah yang hidup faham Suni dan Syiah, dapat hidup rukun dan berdampingan. ”Bahkan Mufti Syria Badruddin Hassun yang berasal dari Suni, fatwa-fatwanya sangat didengar oleh kelompok Syiah,” jelas Kiai Siraj seraya menambahkan kondisi serupa terjadi di Saudi Arabia, Pakistan, maupun Libanon.

Bahkan di Libanon Selatan, lanjut Said, Hizbullah dari kelompok Syiah didukung juga oleh kelompok Suni. Dikatakan Said, sepanjang sejarah, perbedaan yang terjadi antara Suni dan Syiah sebenarnya, terkait soal kekuasaan atau lazim disebut imamah. Karena itu, kelompok Syiah memasukkan masalah imamah ke dalam rukun agama dan sejak dini anak-anak mereka diajarkan pengetahuan tentang imamah. “Dalam perkembangan Islam, kedua kelompok Suni dan Syiah sama-sama memberikan andil dan peran yang sangat besar dalam peradaban Islam,” tegas kyai Siraj.

Said menyebut sejumlah tokoh Syiah yang memberikan andil besar bagi kemajuan Islam. Sebut saja misalnya Ibnu Sina, seorang filsuf yang juga dikenal sebagai seorang dokter, Jabir bin Hayyan yang dikenal sebagai penemu ilmu hitung atau aljabbar, dan seorang sufi Abu Yazid al Busthami. Mereka yang beraliran Syiah ini telah menyumbangkan ilmunya bagi kemajuan Islam. “Jadi, kedua kelompok ini adalah aset yang sangat berharga bagi umat Islam.”

Syafii Maarif (Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.

Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.

Din Syamsudin (Ketua Muhammadiyah)

Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)

Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut. (Desastian/dbs)
http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/01/04/17291/inilah-tokoh-para-pembela-paham-sesat-syiah/

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/01/11/rekomendasi-mui-tentang-syiah/

Perkembangan Jumlah Korban Perang Suriah


Untung waktu pembantaian Tanjung Priok yang menewaskan sekitar 400 orang di tahun 1984 belum ada "Mujahidin". Jadi seminggu selesai dan jumlah korban cuma 400 orang.

Coba jika ada "Mujahidin" macam sekarang seperti ISIS, Misi Medis Suriah, Jabhat Al Nusra, FSA, dsb yang memerangi "Pemerintahan Syi'ah Nushairiyah Soeharto Laknatullah", bisa2 jumlah korban mencapai 2 juta orang lebih dan kita tidak bisa pergi ke kantor atau ke mal karena semua hancur karena perang "Membela" korban yang dibunuh Soeharto tsb.

Lihat perkembangan jumlah korban. Makin lama malah makin banyak. Bukan tambah sedikit. Assad yang mau mereka bunuh masih hidup.

“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” [Al Baqoroh 11-12]


Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/04/23/hukum-bughot-pemberontakan-dalam-islam/

PBB: Korban Tewas di Suriah Capai Lebih Dari 7.500 Orang
Wednesday, 29 February 2012
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/12/02/29/m04olc-pbb-korban-tewas-di-suriah-capai-lebih-dari-7500-orang

PBB: Lebih dari 60.000 Korban Meninggal dalam Perang Suriah
Kamis, 03 Januari 2013
http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/13/01/03/mg1iqq-pbb-

Korban Tewas Perang Suriah Sudah Mencapai 140.041 Orang
Ahad 15 Rabiulakhir 1435 / 16 Februari 2014 
http://www.islampos.com/korban-tewas-perang-suriah-sudah-mencapai-140-041-orang-97964/

PBB Sebut Korban Perang Suriah Dekati 200 Ribu Jiwa
Victor Maulana
Jum'at,  22 Agustus 2014
http://international.sindonews.com/read/894198/42/pbb-sebut-korban-perang-suriah-dekati-200-ribu-jiwa-1408718086 

11 Juli 2014
Mujahidin Tewaskan 65.000 Lebih Pasukan Pro Assad Selama 3 Tahun Perang Suriah
http://www.voa-islam.com/read/international-jihad/2014/07/11/31526/mujahidin-tewaskan-65000-lebih-pasukan-pro-assad-selama-3-tahun-perang-suriah/#sthash.IYH29gsL.dpbs

Rabu, 10 Desember 2014

Salah Paham Wahabi Soal Semua Bid'ah Sesat


أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)



Salafi Wahabi menterjemahkan hadits di atas secara kaku. Menurut mereka semua bid'ah itu pasti sesat dan semua yang sesat masuk neraka.

Padahal baik sahabat mau pun ulama Salaf seperti Imam Syafi'ie menyatakan ada Bid'ah Hasanah. Bid'ah yang baik. 
Contohnya saat mengumpulkan orang2 untuk sholat Tarawih berjama'ah di masjid, dengan lantang Khalifah Umar bin Khoththob ra berkata: Inilah sebaik-baik bid'ah. Begitu pula saat membukukan Al Qur'an, Khalifah Abu Bakar ra bersama Umar bin Khoththob ra sepakat itu adalah bid'ah yang baik. Jadi keliru sekali jika Salafi Wahabi menganggap semua bid'ah itu buruk dan masuk neraka. Berarti pemahaman mereka tidak sesuai dengan pemahaman para sahabat dan ulama Salaf yang asli.
Dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!” ((ni'matul bid’ah hadzihi))” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Di situ Umar ra menyatakan di depan para sahabat bahwa ada Bid'ah yang baik! Ada bid'ah hasanah. Jadi keliru sekali jika menganggap tidak ada bid'ah hasanah. Semua bid'ah sesat dan masuk neraka.

"Dari Zaid bin Tsabit r.a. bahwa ia berkata: "Abu Bakar mengirimkan berita kepadaku tentang korban pertempuran Yamamah, setelah orang yang hafal Al-Qur'an sejumlah 70 orang gugur. Kala itu Umar berada di samping Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar mengatakan "Umar telah datang kepadaku dan ia mengatakan: "Sesungguhnya pertumpahan darah pada pertempuran Yamamah banyak mengancam terhadap para penghafal Al-Qur'an. Aku khawatir kalau pembunuhan terhadap para penghafal Al-Qur'an terus-menerus terjadi di setiap pertempuran, akan mengakibatkan banyak Al-Qur'an yang hilang. Saya berpendapat agar anda memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan Al-Qur'an". Aku (Abu Bakar) menjawab: "Bagaimana aku harus melakukan suatu perbuatan sedang Rasul SAW tidak pernah melakukannya?". Umar r.a. menjawab: "Demi Allah perbuatan tersebut adalah baik". Dan ia berulangkali mengucapkannya sehingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana ia melapangkan dada Umar. Dalam hal itu aku sependapat dengan pendapat Umar.
Zaid berkata: Abu Bakar mengatakan: "Anda adalah seorang pemuda yang tangkas, aku tidak meragukan kemampuan anda. Anda adalah penulis wahyu dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu telitilah Al-Our'an dan kumpulkanlah....!" Zaid menjawab: "Demi Allah andaikata aku dibebani tugas untuk memindahkan gunung tidaklah akan berat bagiku jika dibandingkan dengan tugas yang dibebankan kepadaku ini".
Saya mengatakan: "Bagaimana anda berdua akan melakukan pekerjaan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasululah SAW?". Abu Bakar menjawab: "Demi Allah hal ini adalah baik", dan ia mengulanginya berulangkali sampai aku dilapangkan dada oleh Allah SWT sebagaimana ia telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.
Selanjutnya aku meneliti dan mengumpulkan Al-Qur'an dari kepingan batu, pelepah kurma dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur'an, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surat At-Taubah dari Abu Khuzaimah Al-Anshary yang tidak terdapat pada lainnya (yaitu):
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya apa yang kamu rasakan, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung. (At-Taubah: 128-129). [HR Bukhari]

Di hadits di atas, Abu Bakar ra, Umar bin Khoththob ra, dan Zaid bin Tsabit ra sepakat bahwa pembukuan Al Qur'an itu adalah bid'ah. Tidak pernah dilakukan di zaman Nabi. Namun mereka kemudian yakin itu adalah Bid'ah yang baik. Bid'ah Hasanah!

Ada pun pembukuan hadits lebih parah lagi. Bukan sekedar bid'ah. Tapi Nabi memang melarangnya:
Rasulullah saw bersabda:

لاَ تَكْتُبُوْا عَنِّى شَيْئًا إِلاَّ الْقُرْآنَ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّى غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ (أخرجه أحمد رقم 11362 ومسلم رقم 3004 وأبو يعلى رقم 1209 والدارمى رقم 450 وابن حبان رقم 6254) .

“Janganlah kalian menulis sesuatu dari saya kecuali al-Quran. Barang siapa yang menulis dari saya selain al-Quran, maka hapuslah” (HR Ahmad No 11362, Muslim No 3004, Abu Ya’la No 1209, ad-Darimi No 450 dan Ibnu Hibban No 6254)

Meski banyak hadits yang menyebut Nabi melarang sahabat menulis Hadits. Hanya boleh menulis Al Qur'an. Toh larangan tsb tidak mutlak dijauhi. Di hadits lain Nabi mengizinkannya. Dan para sahabat juga ada yang menulis hadits dengan pertimbangan maslahat ummat:

Namun Rasulullah Saw memberi keringanan kepada seorang sahabat yang minta dituliskan hadis-hadis Rasulullah Saw, yaitu saat Nabi berkhutbah dalam haji perpisahan;
قَامَ أَبُو شَاهٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اكْتُبُوا لِى يَا رَسُولَ اللَّهِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اكْتُبُوا لأَبِى شَاهٍ . قُلْتُ (الوليد) لِلأَوْزَاعِىِّ مَا قَوْلُهُ اكْتُبُوا لِى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ الْخُطْبَةَ الَّتِى سَمِعَهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم (رواه البخارى 2434 ومسلم 3371)
“Lalu Abu Syah, seorang lelaki dari Yaman berkata: “Tuliskanlah untuk saya, wahai Rasulullah!” Rasulullah Saw bersabda: “Tuliskanlah untuk Abu Syah!”. al-Walid (perawi) bertanya: “Apa yang ia maksud dengan perkataannya “Tuliskanlah untuk saya, wahai Rasulullah!”. Auzai menjawab: “Yaitu khutbah yang ia dengar dari Rasulullah” (HR al-Bukhari No 2434 dan Muslim No 3371)
Sebagaimana diketahui, keringanan ini oleh Rasulullah ditujukan kepada Abu Syah. Namun beberapa sahabat yang lain memiliki beberapa catatan yang berisi hadis-hadis Rasulullah Saw, seperti riwayat berikut:
عَنْ عَلِىٍّ رضى الله عنه قَالَ مَا كَتَبْنَا عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم إِلاَّ الْقُرْآنَ ، وَمَا فِى هَذِهِ الصَّحِيفَةِ (رواه البخارى 3179)
“Dari Ali, ia berkata: Kami tidak menulis dari Rasulullah Saw kecuali al-Quran dan hal-hal yang ada dalam lembaran ini (hadis yang menjelaskan tentang perjanjian sesama muslim, luas Madinah dan sebagainya)…” (al-Bukhari No 3179)
Begitu pula dari Abu Hurairah, ia berkata:
يَقُولُ اَبُوْ هُرَيْرَةَ مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّى ، إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ  (رواه البخارى 113)
“Tidak ada dari sahabat-sahabat Nabi Saw yang hafal hadis lebih banyak dari saya, selain dari Abdullah bin Amr (bin Ash). Sebab dia menulis dan saya tidak menulis” (al-Bukhari 113)

Jadi menulis Hadits itu sebenarnya dilarang Nabi. Toh jika itu mutlak dijalankan, tidak akan ada Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dsb. Ummat Islam tidak akan punya pegangan hadits sekarang jika menerapkan hadits secara kaku.

Bid'ah itu kata benda. Yang namanya benda, itu punya sifat. Baik atau buruk. Nah yang dilarang Nabi itu bid'ah yang buruk. Jika bid'ah baik, ya tidak dilarang. Sebaliknya sesuatu yang lama jika buruk, ya harus ditinggalkan. Misalnya sya'i dengan bertelanjang sebagaimana dilakukan kaum Jahiliyyah.

Loh KULLU itu kan artinya SEMUA, kata mereka. Meski benar begitu, kenyataannya para sahabat dan Imam Syafi'ie menyatakan ada bid'ah yang baik bukan? Ikuti pemahaman mereka.

Tidak selalu arti KULLU itu adalah SEMUA atau SELALU. Itu hanya secara umum/garis besar saja.
Contoh:

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ

“… dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup…” [Al Anbiyaa’ 30]
Meski di situ disebut dgn memakai kata KULLU yang artinya SEMUA, nyatanya jin diciptakan dari api dan malaikat dari Nur/cahaya. Jadi Kullu di situ bersifat umum saja. Tetap ada perkecualiannya.



Salah satu asma Allah adalah Al Baadi'.

 البديع  

Maha Pencipta. Pembuat Bid'ah. Jadi kalau bilang semua bid'ah itu masuk neraka, ya salah. Kita semua ini bid'ah. Apa kita semua sesat dan masuk neraka?

Pernyataan kalau tidak terdapat dalam Al Qur’an dan Hadits itu berarti bid’ah, sesat, dan masuk neraka juga keliru. Sebab dalam Islam dikenal IJTIHAD jika sesuatu tak tercantum dalam Al Qur’an dan Hadits.

“Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal, bahwa pada saat Rasulullah saw mengutusnya ke negeri Yaman, beliau saw bertanya: “Bagaimana kamu memutuskan suatu persoalan jika disodorkan kepada sebuah masalah?”. Muadz menjawab, “Saya memutuskan dengan Kitab Allah”. Nabi saw bertanya lagi, “Jika kamu tidak menemukan di dalam Kitab Allah?”. Muadz menjawab, “Dengan Sunnah Rasulullah saw”. Kembali, Nabi bertanya, “Jika kamu tidak menemukan di dalam Sunnah?”. Dia menjawab, “Saya melakukan ijtihad dan tidak bertindak sewenang-wenang”. Kemudian, Muadz bercerita, “Rasulullah saw menepuk dadanya dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasulullah dengan sesuatu (keputusan) yang diridhai Rasulullah saw”. (Sunan al-Darimi, 168)

Dalam Mazhab Syafi’ie, selain Al Qur’an dan Hadits ada pula Ijma’ Ulama (Ijtihad) dan Qiyas
“Diriwayatkan dari ‘Amr bin Ash, bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Apabila seorang hakim memutuskan perkara, lalu ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). Jika hakim itu memutuskan perkara, lalu berijtihad dan hasilnya salah, maka baginya satu pahala (pahala ijtihadnya)”. (Musnad Ahmad bin Hambal, 17148).

Ada 3 hadits yang menceritakan bagaimana 3 sahabat melakukan hal yang baru yang tidak pernah dikerjakan dan diajarkan Nabi, namun Nabi tidak menuduhnya sebagai bid’ah yang sesat. Justru Nabi memujinya.
Mungkin ada yang bilang, ah itu kan di zaman Nabi dan sudah dapat persetujuan Nabi.
Namun banyak juga hal baru / bid’ah seperti pembukuan Al Qur’an di zaman Khalifah Abu Bakar, Sholat Tarawih berjama’ah 23 roka’at di zaman Khalifah Umar, penyusunan Mazhab Maliki, Hanafi, Syafi’ie, dan Hambali, serta pembukuan Kitab Hadits (yang pernah dilarang Nabi) oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dsb.
Jadi adakah semua hal yang baru adalah bid’ah yang sesat?
Yang haram/dosa adalah mengolok2/menghina sesama Muslim serta menimbulkan fitnah dan perpecahan:
Hadis pertama: Seseorang tiba di mesjid kemudian ia masuk kedalam shaf shalat. Ia tergopoh-gopoh karena mengejar shalat. Kemudian ia berkata:”Alhamdulillah hamdan kathiron thayyiban mubaarokan fiihi.”Ketika sholat selesai Rasulullah bertanya:”siapa yang mengucapkan kata-kata tadi?” Sahabat tidak ada yang menjawab. Kemudian Rasulullah saw mengulangi pertanyaanya: ”Siapa yang mengucapkan kata-kata tadi, Ia tidak mengucapkan sesuatu yang jelek. ” Seseorang menjawab: ”Saya tiba di masjid dan khawatir tertinggal shalat, maka saya mengucapkannya. ” Rasulullah berkata: ”Saya melihat dua belas malaikat berlomba siapa di antara mereka yang mengangkatnya.” (HR Muslim No. 600)
Hadis Kedua: Ibnu Umar berkata: ketika kami sedang shalat bersama Rasulullah saw tiba-tiba ada seseorang yang mengucapkan: ” Allahu-akbar kabiroo, walhamdu-lillahi katsiroo, wa subhanallahi bukrotaw-waashilaa.” Kemudian Rasulullah saw bertanya: ”kalimat zikir tadi, Siapa yang mengucapkannya ?” salah seorang menjawab; “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: ”Aku mengaguminya, dibukakan pintu langit bagi kalimat tersebut!”(HR Muslim no.601)
Hadis Ketiga: Seseorang dari kaum Anshar menjadi imam di masjid Quba. Ia selalu membaca surat al Ikhlas sebelum membaca surat lain setelah al-Fatihah. Ia melakukannya setiap rakaat. Jamaah masjid menegurnya: ”Kenapa anda selalu memulainya denga al-Ikhlas, bukankah surat al-Ikhlas cukup dan tidak perlu membaca surat lain, atau engkau memilih cukup membaca al-Ikhlas atau tidak perlu membacanya dan cukup surat lain. Ia menjawab: Saya tidak akan meninggalkan surat al-Ikhlas, kalau kalian setuju saya mengimami dengan membaca al-Ikhlas maka saya akan mengimami kalian, tapi kalau kalian tidak setuju maka saya tidak akan jadi imam. Mereka tahu bahwa orang ini yang paling baik dan tidak ingin kalau yang lain mengimami shalat. Ketika Rasulullah datang mengunjungi, mereka menyampaikan hal ini kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw bertanya pada orang tersebut; ”Apa yang membuatmu menolak saran teman-temanmu? Dan Apa yang membuatmu selalu membaca surat al-Ikhlas setiap rakaat?” Ia menjawab: ”Saya mencintainya (al-Ikhlas). Rasulullah berkata: ”Kecintaanmu terhada surat al-ikhlas memasukanmu kedalam syurga!” (HR Bukhori no.741)

Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat , baik atau buruk,  ke dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ وَأَبِي الضُّحَى عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هِلَالٍ الْعَبْسِيِّ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ نَاسٌ مِنْ الْأَعْرَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ الصُّوفُ فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ فَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَأَبْطَئُوا عَنْهُ حَتَّى رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ قَالَ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرَّةٍ مِنْ وَرِقٍ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ ثُمَّ تَتَابَعُوا حَتَّى عُرِفَ السُّرُورُ فِي وَجْهِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir bin ‘Abdul Hamid dari Al A’masy dari Musa bin ‘Abdullah bin Yazid dan Abu Adh Dhuha dari ‘Abdurrahman bin Hilal Al ‘Absi dari Jarir bin ‘Abdullah dia berkata; Pada suatu ketika, beberapa orang Arab badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan pakaian dari bulu domba (wol). Lalu Rasulullah memperhatikan kondisi mereka yang menyedihkan. Selain itu, mereka pun sangat membutuhkan pertolongan. Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk memberikan sedekahnya kepada mereka. Tetapi sayangnya, para sahabat sangat lamban untuk melaksanakan anjuran Rasulullah itu, hingga kekecewaan terlihat pada wajah beliau. Jarir berkata; ‘Tak lama kemudian seorang sahabat dari kaum Anshar datang memberikan bantuan sesuatu yang dibungkus dengan daun dan kemudian diikuti oleh beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang turut serta menyumbangkan sedekahnya (untuk diserahkan kepada orang-orang Arab badui tersebut) hingga tampaklah keceriaan pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim 4830)

Hadits di atas diriwayatkan juga dalam Sunan An-Nasa‘i no.2554, Sunan At-Tirmidzi no. 2675, Sunan Ibnu Majah no. 203, Musnad Ahmad 5/357, 358, 359, 360, 361, 362 dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya.

Arti kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah bukanlah sunnah Rasulullah atau hadits  atau sunnah (mandub) karena tentu tidak ada sunnah Rasulullah yang sayyiah, tidak ada hadits yang sayyiah dan tidak ada perkara sunnah (mandub) yang sayyiah

Jadi arti  kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru, sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya

Kesimpulannya,

Sunnah hasanah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah hasanah

Sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah dholalah.

Untuk ibadah2 yang sudah jelas dan ditentukan seperti sholat wajib ada 5 waktu, jika menambah jadi 6 waktu, nah itu baru bid'ah yang sesat. Tapi jika tidak, apalagi sebelumnya sudah ada perintah Allah misalnya untuk berzikir sebanyak2nya dan berdoa, itu tidak bid'ah selama dilakukan di waktu dan tempat yang tidak dilarang oleh Nabi. Sebab zikir itu boleh sebanyak2nya dan dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring. Jadi bebas. Selama tidak mengganggu kewajiban2 lainnya seperti mencari nafkah.

http://staff.unila.ac.id/fosifpunila/2012/12/15/marilah-memahami-hadits-kullu-bidah-dengan-ilmu-balaghah-dan-nahwu/


https://aslibumiayu.wordpress.com/2012/08/15/semua-bidah-itu-sesat-tidak-ada-bidah-hasanah-dan-bidah-sayyiah/

http://kabarislamia.com/2012/11/08/jangan-sembarangan-menuduh-bidah/

http://hujjahnu.blogspot.com/2013/03/rasulullah-melarang-menulis-hadis.html

Senin, 08 Desember 2014

Ulama Sunni yang DIfitnah Sebagai Syi'ah oleh Wahabi


Ini adalah Ulama Sunni yang DIfitnah Sebagai Syi'ah atau Pembela Syi'ah oleh Wahabi. Di antaranya adalah Habib Rizieq Shihab, KH Said Aqil Siradj, KH Quraisy Shihab, Syeikh Ahmad Hassoun, Syeikh Ramadhan Al Buthi. Menurut Wahabi, Syi'ah Bukan Islam. Artinya para Ulama ini bukan Islam. Tapi Kafir! Na'udzubillah min dzalik!

Karena difitnah sebagai Syi'ah / Pembela Syi'ah oleh Wahabi, akhirnya Syeikh Al Buthi bersama cucunya yang masih kecil mati syahid dibom. Sementara Syeikh Ahmad Hassoun, Mufti Besar Suriah, harus kehilangan anaknya yang tewas dibunuh meski sebenarnya beliau adalah target utama yang ingin dibunuh oleh Wahabi. Seperti biasa Wahabi selalu membantah membunuh mereka dan mengkambing-hitamkan Assad sebagai pembunuhnya. Padahal Media Massa Online milik Wahabi jelas2 menyebut para ulama tsb pendukung Assad dan musuh bagi "Ahlus Sunnah" (demikian Wahabi menyebut diri mereka). Mereka serang para ulama tsb dengan kata2 dan tulisan mereka. Saat para ulama tsb dibunuh, mereka menolak disebut sebagai pembunuhnya. Padahal mereka menghasut para pembaca mereka agar membenci para ulama tsb sehingga tidak akan aneh jika ada pembaca mereka yang membunuh ulama tsb saking bencinya.
Hanya karena Video kurang dari 1,5 menit yang mengajak ummat Islam menghidupkan semangat jihad Karbala, KH Said Aqil Siradj langsung difitnah sebagai Syi'ah. Apa mereka tidak tahu bahwa Sayyidina Hussein ra itu adalah cucu Nabi yang amat disayang Nabi? Apakah mencintai cucu Nabi dan bersedih atas kematiannya di Karbala otomatis menyebabkan seseorang langsung dianggap Syi'ah?

KH Said Aqil Siradj itu KETUA UMUM NU. NAHDLATUL ULAMA. Ketua dari para ULAMA NU. Apa ia Ulama NU bodoh-bodoh sehingga mengangkat Syi'ah sebagai Ketua Umum Mereka?

Mereka Fitnah juga Habib Rizieq Shihab, KH Hasyim Muzadi, Quraisy Shihab hanya karena berani menyatakan Syi'ah bagian dari Islam. Memang itulah adanya. KH Ali Yafie mantan Ketua Umum MU - Majelis Ulama Indonesia - dan juga 200 Ulama Dunia di Amman juga menyatakan itu lewat Risalah Aman (Amman Message - www.ammanmessage.com). Pemerintah dan Ulama Arab Saudi dari dulu juga membolehkan jema'ah haji Syi'ah Iran berhaji ke tanah suci Mekkah. Padahal tanah suci itu haram bagi Syi'ah jika mereka itu kafir Iran pun termasuk sebagai anggota OKI - Organisasi Konferensi Islam. Bahkan Iran pernah jadi tuan rumah pertemuan OK dan juga MTQ Internasional di mana Qori Indonesia jadi juaranya.

Para Ulama di atas adalah Ulama Besar. Ulama Sepuh yang diakui ilmunya oleh ummat Islam dan banyak ulama Indonesia. KH Quraisy Shihab itu mantan Ketua MUI-Majelis Ulama Indonesia. Apa iya para Ulama Indonesia bodoh2 sehingga mengangkat seorang Syi'ah seperti KH Quraisy Shihab sebagai Ketua mereka?


Lantas siapa sih ulama Salafi Wahabi yang berani memfitnah mereka sebagai Syi'ah? Siapa Ulama Salafi Wahabi yang berani memfitnah mereka sebagai kafir? Admin NahiMunkar.com yang tidak jelas keilmuannya? Siapa?

Jelas Salafi Wahabi yang memfitnah Ulama Sunni di atas sebagai Syi'ah tak lebih dari kaum Khawarij yang gemar mengkafirkan sesama Muslim bahkan Ulama. Jika mampu, niscaya mereka akan membunuh ulama tsb sebagaimana mereka menyakiti para ulama tsb dengan lisan dan tulisan mereka.

Khawarij pertama meragukan keadilan Nabi Muhammad SAW. Merasa lebih baik daripada Nabi. Khawarij sekarang meragukan keadilan para Ulama Pewaris Nabi. Merasa lebih hebat dan lebih pintar daripada para ulama yang mereka anggap bodoh dan sesat.

Dari Anas berkata : Ada seorang lelaki pada zaman Rasulullah berperang bersama Rasulullah dan apabila kembali (dari peperangan) segera turun dari kenderaannya dan berjalan menuju masjid nabi melakukan shalat dalam waktu yang lama sehingga kami semua terpesona dengan shalatnya sebab kami merasa shalatnya tersebut melebihi shalat kami, dan dalam riwayat lain disebutkan kami para sahabat merasa ta’ajub dengan ibadahnya dan kesungguhannya dalam ibadah, maka kami ceritakan dan sebutkan namanya kepada Rasulullah, tetapi rasulullah tidak mengetahuinya, dan kami sifatkan dengan sifat-sifatnya, Rasulullah juga tidak mengetahuinya, dan tatkala kami sednag menceritakannya lelaki itu muncul dan kami berkata kepada Rasulullah: Inilah orangnya ya Rasulullah. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya kamu menceritakan kepadaku seseorang yang diwajahnya ada tanduk syetan. Maka datanglah orang tadi berdiri di hadapan sahabat tanpa memberi salam. Kemudian Rasulullah bertanya kepada orang tersebut : ” Aku bertanya kepadamu, apakah engkau merasa bahwa tidak ada orang yang lebih baik daripadamu sewaktu engkau berada dalam suatu majlis. ” Orang itu menjawab: Benar”. Kemudian dia segera masuk ke dalam masjid dan melakukan shalat dan dalam riwayat kemudian dia menuju tepi masjid melakukan shalat, maka berkata Rasulullah: ”Siapakah yang akan dapat membunuh orang tersebut ? ”. Abubakar segera berdiri menuju kepada orang tersebut, dan tak lama kembali. Rasul bertanya : Sudahkah engkau bunuh orang tersebut? Abubakar menjawab : ”Saya tidak dapat membunuhnya sebab dia sedang bersujud ”. Rasul bertanya lagi : ”Siapakah yang akan membunuhnya lagi? ”. Umar bin Khattab berdiri menuju orang tersebut dan tak lama kembali lagi. Rasul berkata: ”Sudahkah engkau membunuhnya ? Umar menjawab: ”Bagaimana mungkin saya membunuhnya sedangkan dia sedang sujud”. Rasul berkata lagi ; Siapa yang dapat membunuhnya ?”. Ali segera berdiri menuju ke tempat orang tersebut, tetapi orang terebut sudah tidak ada ditempat shalatnya, dan dia kembali ke tempat nabi. Rasul bertanya: Sudahkah engkau membunuhnya ? Ali menjawab: ”Saya tidak menjumpainya di tempat shalat dan tidak tahu dimana dia berada. ” Rasulullah saw melanjutkan: ”Sesungungguhnya ini adalah tanduk pertama yang keluar dari umatku, seandainya engkau membunuhnya, maka tidaklah umatku akan berpecah. Sesungguhnya Bani Israel berpecah menjadi 71 kelompok, dan umat ini akan terpecah menjadi 72 kelompok, seluruhnya di dalam neraka kecuali satu kelompok ”. Sahabat bertanya : ” Wahai nabi Allah, kelompk manakah yang satu itu? Rasulullah menjawab : ”Al Jamaah”. (Musnad Abu Ya’la/ 4127, Majma’ Zawaid/6-229).

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:
Seseorang datang kepada Rasulullah saw. di Ji`ranah sepulang dari perang Hunain. Pada pakaian Bilal terdapat perak. Dan Rasulullah saw. mengambilnya untuk diberikan kepada manusia. Orang yang datang itu berkata: Hai Muhammad, berlaku adillah! Beliau bersabda: Celaka engkau! Siapa lagi yang bertindak adil, bila aku tidak adil? Engkau pasti akan rugi, jika aku tidak adil. Umar bin Khathab ra. berkata: Biarkan aku membunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri. Sesungguhnya orang ini dan teman-temannya memang membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. (Shahih Muslim No.1761)

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya diantara ummatku ada orang-orang yang membaca Alquran tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti terbunuhnya kaum Aad. (Shahih Muslim No.1762)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/01/19/ciri-khawarij-tak-mengamalkan-al-quran-dan-membunuh-muslim/

Hati2 terhadap isyu Syi'ah Bukan Islam. Jika kita tertipu maka kita akan menganggap para Ulama tsb bukan Islam. Kafir. Murtad. Artinya darah ulama tsb halal untuk dibunuh karena mereka jadi murtad / kafir.

Di Suriah, bahkan sesama Wahabi versi Al Qaidah saja mereka saling pancung karena menganggap Wahabi Al Qaidah lainnya sbg Syi'ah. Baru ketahuan itu Wahabi Al Qaidah setelah para rekan korban melihat kepala Wahabi yang dbunuh ditenteng dan ditunjukkan dalam Video yg disebar oleh Wahabi yg membunuh:
http://kabarislamia.blogspot.com/2013/11/teroris-al-qaidah-meminta-maaf-karena.html

Isyu Syi'ah ini sudah membuat negara2 seperti Iraq dan Suriah dilanda perang Saudara. Sementara di Afghanistan dan Pakistan, berbagai bom bunuh diri yang dilakukan kaum Wahabi thd Syi'ah menimbulkan teror di sana. Di Indonesia juga Wahabi yang didanai Kedubes Arab Saudi mulai menelan korban tewas di Indonesia

Hingga kini ISIS dan Jabhat Al Nusra yang keduanya adalah Wahabi dan mengaku "Mujahidin Suriah" saling bunuh karena menganggap yang dibunuh mereka adalah Syi'ah!

KH Quraisy Shihab menjelaskan ada banyak jenis Syi'ah. Paling tidak ada 10 jenis. Ada yang sesat, ada pula yang lurus. Habib Rizieq Shihab membagi Syi'ah dalam 3 kelompok: Syi'ah Ghulat yang menTuhankan Ali. Ini Kafir. Kedua Syi'ah Rafidhoh yang mencaci sahabat seperti Abu Bakar ra dan Istri Nabi Siti 'Aisyah ra. Ini sesat. Ketiga adalah Syi'ah Mu'tadil. Syi'ah yang lurus yang tidak menTuhankan Ali dan tidak menghina istri dan sahabat Nabi. Terhadap mereka, kita bisa berdialog dengan damai.

Ibaratnya ada orang ketemu dengan orang Papua. Orang awam akan langsung berpendapat bahwa orang Indonesia itu warna kulitnya hitam-hitam. Ini karena mereka main generalisasi / gebyah uyah sembarangan. Ada pun para Ulama, akan meneliti lebih dalam dengan hati2 dan adil. Oh ternyata selain Papua, Indonesia itu terdiri dari berbagai suku seperti suku Sunda, Jawa, dsb yang malah jumlahnya jauh lebih besar daripada jumlah suku Papua. Begitulah beda orang awam dengan ulama. Makanya Allah di dalam Al Qur'an menegaskan Ulama itu beda dengan orang awam. Ulama itu posisinya lebih tinggi daripada orang awam.

Bagaimana mungkin orang2 awam yang kerja di kantor dan belajar agama Islam cuma saat SMA dan itu pun seminggu cuma sekali menganggap para ulama yang belajar agama Islam puluhan tahun di pesantren dan kemudian fokus belajar dan mengajarkan ilmu agama Islam sebagai bodoh dan sesat? Pantas tidak? Apalagi ternyata ada orang yang baru tahun kemarin masuk Islam / Mualaf dengan gagah mengkafirkan Ulama sepuh seperti Quraisy Shihab yang berumur 70 tahun lebih?

Quraisy Shihab itu 12 tahun belajar di pondok Pesantren. Kemudian meneruskan pelajaran agama Islam di Universitas Al Azhar untuk S1, S2, dan S3. Paling tidak 20 tahun beliau belajar agama Islam. Kemudian belajar dan mengajar Islam dari usia 25 tahun hingga 70 tahun lebih. Selama 45 tahun lebih! Tahu2 ada orang kafir yang baru masuk Islam langsung mengkafirkannya dengan meng-copy paste berbagai sumber dari internet. Padahal dalam Islam kita harus tabayyun langsung kepada yang bersangkutan (Surat Al Hujuraat ayat 6).

Orang Islam yang benar akan bertanya kepada ulama. Bukan kepada Google, Youtube, atau internet.  Orang Islam yang benar akan memuliakan para Ulama sebagaimana Firman Allah:

“…Bertanyalah kepada Ahli Zikir (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

Nah kita kalau tak tahu harus bertanya kepada Ulama yang senang berzikir kepada Allah. Bukan ulama Su’ yang lupa kepada Allah.

Allah meninggikan ulama dibanding orang2 awam. Pemahaman Ulama terhadap Al Qur’an dan Hadits atau masalah, itu lebih baik daripada pemahaman orang-orang awam:

” ….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujaadilah [58] : 11)

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Az-Zumar [39]: 9).

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”. (TQS.Fathir [35]: 28)

„Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar:9)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah:11)

Saya pernah ke satu acara di mana banyak ulama dan habaib berkumpul di Masjid At Taubah, Kebon Nanas Jakarta Timur. Fotonya ada di atas. Di antaranya ada mantan Ketua MUI KH Ali Yafie, Ketua MUI KH Ma'ruf Amin, KH Dr Mohamad Hidayat MBA, Habib Hud bin Baghir Alatas, dan juga KH Quraisy Shihab. Di situ selain KH Ma'ruf Amin, KH Quraisy Shihab juga memberi ceramah. Tidak ada itu para ulama yang protes kalau KH Quraisy Shihab itu Syi'ah atau kafir. Bahkan saya lihat Habib Hud yang lebih muda mencium tangan beliau saat bersalaman.

Jadi jika ada pegawai kantoran yang ngajinya cuma seminggu sekali selepas SMP kemudian menganggap KH Quraisy Shihab sebagai Syi'ah atau kafir, berarti dia merasa lebih hebat dan lebih pintar dari para ulama di atas.

Para Ulama mengkafirkan seseorang/kaum berdasarkan kriteria yang jelas, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Misalnya jika tidak mempercayai 6 rukun Iman misalnya tidak mempercayai Allah sebagai satu2nya Tuhan atau tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir seperti Ahmadiyyah, maka ini kafir. Begitu pula jika tidak mengerjakan 5 rukun Islam seperti tidak mau sholat atau zakat meski mampu, maka ini kafir/sesat. Kemudian jika tidak Ihsan dgn sesama Muslim seperti menganggap Muslim lain sebagai sesat/kafir, berarti dia sesat/kafir.

Sebelum memvonis seseorang/kaum sebagai sesat/kafir, mereka tabayyun dulu. Mereka tanya langsung kepada orang yang dituduh kafir. Bukan copy paste dari blog2 tidak jelas seperti nahimunkar.com:


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [Al Hujuraat 6]

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/08/11/cara-mendapatkan-berita-yang-benar/


Sebagaimana hakim yang adil, mereka mendengarkan pembelaan tertuduh. Bahkan penjahat sadis pun tetap saja diadili lebih dulu oleh hakim. Didengar dulu keterangan dari tersangka. Islam juga begitu. Tidak main vonis kafir tanpa tabayyun langsung:

Bila dua orang yang bersengketa menghadap kamu, janganlah kamu berbicara sampai kamu mendengarkan seluruh keterangan dari orang kedua sebagaimana kamu mendengarkan keterangan dari orang pertama. (HR. Ahmad)

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/05/27/menghormati-dan-mengikuti-ulama-pewaris-nabi/

Buat orang2 awam, terutama yang tidak pernah sekolah di pesantren / belajar agama secara khusus, saya nasehatkan untuk tidak mengkafirkan sesama Muslim. Apalagi ulama. Mengkafirkan sesama Muslim itu gampang. Tapi akibatnya: Luar Biasa. Jika anda salah, andalah yang kafir. Masuk neraka.

Ingat, di akhirat yang ditanya itu agama anda. Bukan agama orang lain seperti KH Quraisy Shihab. Yang dihisab itu sholat anda. Bukan sholat orang Syi'ah dsb. Jadi jagalah diri anda dan keluarga anda dari api neraka. Jangan terlalu repot mengurusi / mengkafirkan orang lain. Apalagi ulama.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu (atau mengucapkan Tahlil): “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu [dulu juga kafir], lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” [An Nisaa’ 94]
Tiga perkara berasal dari iman: (1) Tidak mengkafirkan orang yang mengucapkan “Laailaaha illallah” karena suatu dosa yang dilakukannya atau mengeluarkannya dari Islam karena sesuatu perbuatan; (2) Jihad akan terus berlangsung semenjak Allah mengutusku sampai pada saat yang terakhir dari umat ini memerangi Dajjal tidak dapat dirubah oleh kezaliman seorang zalim atau keadilan seorang yang adil; (3) Beriman kepada takdir-takdir. (HR. Abu Dawud)

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)


“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.” [HR Bukhari]
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra, bahwa Nabi SAW bersabda:
“Bila seseorang mengkafirkan saudaranya (yang Muslim), maka pasti seseorang dari keduanya mendapatkan kekafiran itu. Dalam riwayat lain: Jika seperti apa yang dikatakan. Namun jika tidak, kekafiran itu kembali kepada dirinya sendiri”.[HR Muslim]
Dari Abu Dzarr Ra, Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa memanggil seseorang dengan kafir atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal tidak demikian halnya, melainkan panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya”.[HR Muslim]


Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2011/10/26/jangan-mudah-mengkafirkan-sesama-muslim/



Said Aqil Siradj Ternyata Syiah..!
https://www.youtube.com/watch?v=Wbmnwpjvt_c

Said Agil Siraj : "Saya Bukan Syiah"
https://www.youtube.com/watch?v=KNVLs4FF-bs

Quraish Shihab Jawab Tudingan Syiah
"Nabi SAW saja difitnah, apalagi cuma Quraish Shihab,"ujarnya sambil tertawa ringan. Quraish pun menantang orang-orang yang menyebutnya berpaham syiah untuk membuktikan apakah prinsip-prinsip paham yang berkembang di Iran tersebut ada dalam karyanya. 
Dia menjelaskan, prinsip syiah sangat jelas seperti percaya kepada imamah. Tak hanya itu, terdapat ritual khas yang kerap dijalankan penganut syiah seperti shalat di batu karbala dan menangguhkan puasa. 
"Orang-orang yang menuding saya Syiah, apakah pernah melihat saya shalat di atas batu Karbala? Apakah, ketika Ramadhan, pernah melihat saya tangguhkan buka puasa 10 hingga 15 menit, sebagaimana kayakinan Syiah."
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/02/17/n14ozl-quraish-shihab-jawab-tudingan-syiah

Quraish Shihab Klarifikasi Tuduhan Syiah
Menanggapi hal itu, Pejabat Rais ‘Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri pada tanggal 14 Juli ditanya salah satu akun yang menanyakan perihal itu, “assalamu'alaikum kyai..apa benar bpk quraishshihab itu syiah?” Pertanyaan itu dijawab akun kiai yang akrab disapa Gus Mus (‏@gusmusgusmu) dengan “<~ tidak benar”.

Sementara Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitternya @lukmansaifuddin mengaku dikirimi banyak link berita soal tuduhan itu. Ia prihatin dengan hal itu. “Betapa sedih menerima link yg isinya me-nyesat2kan Pak Quraish Shihab. Semoga ketidaktahuan & kesalahpahaman segera sirna..,” ungkapnya 
http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,53332-lang,id-c,nasional-t,Quraish+Shihab+Klarifikasi+Tuduhan+Syiah-.phpx

Dengan latar belakang suara Radio Rodja, Salafi Wahabi memfitnah Habib Rizieq Shihab sebagai Al Kadzdzab (Pembohong Besar) Keledai Tunggangan Syi'ah Laknatulah:

FPI KELEDAI TUNGGANGAN SYIAH RIZIEQ SHIHAB AL KADZDZAB
Hari ini jam 7.00 WIB Rizieq Shihab Al Kadzdzab mengisi kajian di TV SYIAH LAKNATULLAH, HADI TV

Menurut Ummu Ferdhy si Rizieq Shihab Al Kadzdzab berapi2 menghujad Yazid bin Muawiyah dalam acara di TV SYIAH (HADI TV) tersebut.
http://www.sunnahcare.com/2013/11/fpi-keledai-tunggangan-syiah-rizieq.html

Kyai Hasyim Muzadi Telah Melakukan Kebohongan Besar
By nahimunkar.com on 29 October 2014
Kyai Hasyim Muzadi telah melakukan kebohongan besar, justru kelompok Sunni di Irak-lah yang dijajah dan dihabisi oleh kelompok Syi'ah dengan kejam dan sadis, begitu juga kelompok Sunni di Iran
Tidak heran, jika banyak kalangan yang menuduh Kyai Hasyim Muzadi telah menyeberang ke Syi’ah karena seringnya cak Hasyim membela kelompok Syi’ah dengan sering mengunjungi kaum Syi’ah di Irak dan Iran. “Saya ke Irak dan Iran bukan untuk membela Syi’ah, saya tidak membela Syi’ah sebagai ajaran, tapi saya membela Syi’ah sebagai masyarakat yang terjajah”, kata cak Hasyim saat menghadiri peringatan seratus hari wafatnya KH. Yusuf Hasyim. Dirinya menemui kelompok Sunny-Syi’ah justru untuk mendamaikan mereka, kilahnya.
http://www.nahimunkar.com/kyai-hasyim-muzadi-telah-melakukan-kebohongan-besar/

Obsesi Mensyiahkan Habib Rizieq
Jakarta – FPI: Isu Habib Rizieq Syiah atau cenderung Syiah atau minimal membela Syiah beredar massif di dunia maya. Bahkan supaya lebih hot dibumbui foto-foto lama ketika Habib Rizieq diundang ke Iran tahun 2006 bersama sejumlah tokoh NU dan Muhammadiyah. Tentu itu fitnah kepada Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) yang sudah kenyang dengan fitnah dan hujatan dari media massa dan kaum Liberal.

Namun hujatan kali ini berbeda. Sebab, kali ini fitnah dan hujatan itu beredar dan muncul bukan dari kalangan sekuler liberal dan media kaum kuffar, tapi justru beredar dan muncul dari kalangan gerakan Islam yang selama ini sohib yang akrab dengan Habib Rizieq dan FPI dalam perjuangan. Tidak kurang beberapa situs-situs Islam terdepan ikut serta terlibat dalam fitnah kepada Habib dan FPI. Memprihatinkan.

Sebenarnya fitnah dan tuduhan Habib Rizieq Syiah itu hanya sebuah obsesi yang dimulai oleh wartawan genit di situs NM.Com. Obsesi men-Syiahkan Habib Rizieq dimulai setelah munculnya wacana mendaulat Habib Rizieq sebagai Capres Syariah untuk mendekritkan berlakunya syariah secara formal dan konstitusional di NKRI (NKRI Bersyariah) yang dilansir oleh Sekjen FUI sekitar dua tahun lalu dalam Tabloid Suara Islam edisi 127 lalu disosialisasikan dalam Maulid Nabi yang diadakan FPI di Petamburan (3/2/2012), Apel Siaga Umat Islam “Indonesia Tanpa Liberal” di depan Istana (9/3/2012) dan Diskusi Publik di Islamic Book Fair Istora Senayan (12/03/2012). Di samping itu melalui tabloid Suara Islam dan situs suara-islam.com, polling Capres Syariah dengan pilihan Habib Rizieq, KH. Abu Bakar Ba’asyir, dan Ustadz Abu Jibril.
http://fpi.or.id/91-Obsesi-Mensyiahkan-Habib-Rizieq.html

Hati-hati terhadap Isyu Syi'ah Bukan Islam. Akhirnya Sunni juga Dibantai

http://kabarislamia.blogspot.com/2013/11/hati-hati-terhadap-isyu-syiah-bukan.html

Beberapa Perbedaan Sunni dengan Syi'ah

http://kabarislamia.blogspot.com/2012/08/beberapa-perbedaan-sunni-dengan-syi.html

http://kabarislamia.com/2014/02/17/media-massa-wahabi-fitnah-syeikh-ahmad-hassoun-sbg-syiah/

Ceramah Quraisy Shihab dan KH Ma’ruf Amin tentang Mati

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2013/02/04/ceramah-quraisy-shihab-dan-kh-maruf-amin-tentang-mati/

Pawai Natal Keliling Polisi Brimob di Kelapa Dua Jakarta


Info dari WAG:
"Pawai natal di Kelapa Dua menggunakan mobil brimob keliling pasir gunung selatan n sekitarnya, diiringi lagu2 natal n bagi2 permen. Jokowi menang mereka semakin berani"

Pakai mobil brimob lagi. Mungkin ini sebabnya kenapa polisi garang thd ummat Islam shg demo bbm saja bisa ditembak mati sementara Papua yg minta merdeka malah aman. Seiman. 

Harusnya polisi adil. Jika takbir keliling dilarang, Natal Keliling juga dilarang. Kok Polisi Brimob malah melakukannya?

Sebaiknya Takbir keliling dibolehkan. Jika ada hal yang tidak beres, tinggal diatur. Misalnya harus ada izin dari pengurus masjid/kelurahan. Lakukan pengawalan. Jika ada pelanggaran, baru ditindak. Begitu. Bukan main larang Takbir Keliling.

Solusinya, perkuat aqidah ummat Islam sejak dini dgn Sifat 20. Kitab ini tipis dan mudah dipahami anak2. Jadi kita mengenal sifat Tuhan sejati seperti esa, terdahulu, kekal, Maha Hidup, dsb.

Sifat 20: Sifat Allah yang Penting dan Wajib Kita Ketahui

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2009/11/08/sifat-20-allah-yang-penting-dan-wajib-kita-ketahui/ 

Jika ada yg mau bantu cetak buku tsb bagus. Mudah2an jadi amal ilmu yg bermanfaat yang pahalanya terus mengalir meski kita telah meninggal. Aamiin

Catatan:
Jika ummat Islam mempersoalkan ketidak-adilan ini dianggap oleh kaum kafir dan sekular sebagai TIDAK TOLERAN.
Tapi saat Gubernur Jakarta dan Polisi melarang Takbir Keliling, itu mereka anggap sebagai TOLERAN. Padahal mereka Natal Keliling.

Adilkah? 

Polisi Larang Warga Jakarta Takbir Keliling
http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/08/03/polisi-larang-warga-jakarta-takbir-keliling

Minggu, 27 Juli 2014 , 03:35:00
Polisi Larang Takbir Keliling
http://www.jpnn.com/read/2014/07/27/248555/Polisi-Larang-Takbir-Keliling-

Polisi larang warga Jakarta lakukan takbir keliling
Reporter : Sukma Alam | Jumat, 25 Juli 2014 
http://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-larang-warga-jakarta-lakukan-takbir-keliling.html